Tips Memanfaatkan Limbah Jerami

ditulis pada 07 March 2012, 12:13:57

Ketika musim panen padi tiba, muncul limbah berupa jerami. Batang padi yang mengering ini biasanya hanya ditumpuk di pinggir sawah setelah dipisahkan dengan biji padinya.

Menurut data BPS tahun 2006, jerami padi memang merupakan limbah pertanian terbesar di Indonesia. Kadang, para petani memusnahkan jerami ini dengan cara dibakar. Ini tentu saja dapat menimbulkan polusi udara. Sebenarnya, kita bisa memanfaatkan limbah jerami ini menjadi produk yang bermanfaat. Contohnya sebagai berikut.

I. SEBAGAI KOMPOS

Bahan-bahan yang kita butuhkan: jerami padi segar 1 meter kubik, urea 2 kilogram, dan SP-36 1 kilogram atau NPK 2-3 kilogram, kapur 1 kilogram, pupuk kandang 20 kilogram, dan starter trichoderma 0,5 kilogram.

Tahapan Pembuatannya:

1. Jerami segar direndam selama satu malam. Perendaman ini bertujuan agar jerami tetap lembap.

2. Bahan aktif (urea, SP-36, kapur, pupuk kandang, starter trichoderma) dicampur serta diaduk sampai rata dan dibagi atas empat bagian.

3. Jerami ditumpuk 1 meter kubik dan dibagi atas empat lapisan

4. Pada lapisan pertama (seperempat bagian jerami) ditaburkan bahan aktif seperempat bagian dan dipercikkan air untuk menjaga kelembapannya.

5. Setelah itu, tumpukan kembali lapisan jerami kedua (seperempat bagian jerami) dan taburkan kembali bahan aktifnya seperempat bagian. Demikian seterusnya hingga jerami habis. Tinggi tumpukan jerami sebaiknya kurang dari 1,5 meter agar memudahkan dalam pembalikannya

6. Tutup tumpukan dengan plastik agar terlindung dari hujan dan panas atau dapat diletakkan di tempat yang terlindung.

7. Lakukan pembalikan tumpukan jerami setiap minggu.

8. Kelembapan tumpukan jerami dijaga agar kadar airnya 60-80 persen dengan cara menyiram atau memercikkan air. (Syaratnya, jika diremas jeraminya, air tidak menetes.)

9. Kompos siap digunakan setelah 3-4 minggu.

II. SEBAGAI MEDIA BUDI DAYA JAMUR TIRAM PUTIH

Umumnya, substrat yang digunakan dalam budi daya jamur tiram adalah serbuk kayu. Jika serbuk kayu sulit diperoleh, kita bisa memanfaatkan limbah jerami ini sebagai media budi daya jamur tersebut.

Tahapan Pembuatannya:

1. Jerami dicacah 2-3 sentimeter, lalu dimasukkan ke karung dan direndam dalam air.

2. Selanjutnya, karung ditiriskan dan dimasukkan ke dalam kantong plastik PP tahan panas berukuran 20 x 30 sentimeter sampai cukup padat sehingga beratnya sekitar 1 kilogram.

3. Kantong plastik berisi substrat tanam ditegakkan dengan bagian kantong plastik yang terbuka menghadap ke atas.

4. Lalu, bag log dibiarkan selama 24 jam dalam keadaan mulut terbuka.

5. Setelah itu, kantong plastik dipasangi cincin yang terbuat dari pipa paralon berdiameter 2,5 sentimeter dan ditutup dengan potongan kapas serta diikat dengan karet gelang sehingga menjadi bag log.

6. Bag log disterilisasi di dalam drum pengukus selama 8 jam, lalu didinginkan selama 24 jam.

6. Bag log diinokulasi secara aseptis dengan memasukkan bibit jamur sebanyak tiga sendok lalu ditutup dengan kapas dan plastik kecil yang sudah diberi ring.

7. Bag log yang sudah diinokulasi selanjutnya diinkubasi selama 20-50 hari dengan suhu 22-28 derajat Celsius.

8. Jika seluruh permukaan bag log sudah rata ditumbuhi miselium, dilakukan pemeliharaan di rumah jamur.

9. Panen badan buah jamur dilakukan 3-4 hari setelah munculnya tunas. Hasil berat panen per bag log sebanyak 81-90 gram.

III. Sebagai Pakan Ternak Alternatif

Pengolahan jerami dengan fermentasi menjadi “peuyeum jerami” adalah alternatif teknologi pengolahan pakan yang tak hanya mengawetkan tapi juga menambah nilai gizi. Kata peuyeum sendiri berasal dari bahasa Sunda yang searti dengan tape singkong. Kelebihan pengolahan jerami ini adalah dapat dilakukan dalam kondisi kadar air tinggi sehingga tetap dapat dibuat pada musim penghujan.

Tahapan Pembuatannya:

1. Cacah rumput dengan ukuran 1-3 sentimeter. Pencacahan dapat dilakukan secara manual atau menggunakan mesin pencacah rumput.

2. Campur semua bahan yang ada. Perbandingannya: 15-30 persen jerami, 20-35 persen rumput gajah, 10-15 persen dedak padi, 10-15 persen onggok (ampas tapioka), 5 persen ampas tahu, dan 1 persen garam mineral.

3. Penambahan air sangat disesuaikan dengan kondisi bahan dan air yang ditambahkan sekitar berkisar 15-25 persen (kadar air campuran 40-60 persen).

4. Setelah semua bahan tercampur rata , dilakukan pengemasan dan pemeraman selama 21 hari.

5. Sebelum diberikan ke ternak, peuyeum diangin-anginkan sekitar 5-10 menit. Pemberian ke ternak dilakukan secara bertahap untuk proses penyesuaian.

Selain ketiga hal tersebut, jerami juga bisa digunakan untuk bahan alas tikar yang sangat murah. Ada pula yang memanfaatkan jerami untuk penghangat peternakan itik petelur. Di samping mampu menciptakan suasana hangat dalam kandang, jerami juga bermanfaat menjaga kebersihan kulit telur. Jerami ini sekaligus bisa meminimalisasi gangguan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh debu dalam kandang. Bahkan, jerami sering digunakan sebagai alas sekaligus untuk menyerap kotoran pada peternakan unggas.

Jika diteliti lebih lanjut, sebenarnya masih banyak kegunaan limbah jerami ini. Bahkan, siswa SMA Malingping di Banten berhasil membuat kertas anti-rayap dari bahan jerami. Jika ilmu yang bermanfaat seperti ini ditularkan kepada petani, nantinya, saat musim panen padi tiba, mereka tidak hanya mendapat untung dari penjualan beras, tapi juga dari daur ulang limbah jerami menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Sumber: Disarikan dari majalah Infovet, Edisi 195, Oktober 2010; tabloid Sinartani Edisi No. 3402; bengkulu.litbang.deptan.go.id; dan VIVAnews.com

Diskusi [0]

Diskusikan konten ini bersama para sobat bumi. Komentar, pertanyaan, masukan, maupun sanggahan dapat ditulis di form Diskusi berikut. close

Tulis Diskusi

Untuk berdiskusi, silahkan login terlebih dahulu